Aurorastevani’s Blog

Review buku Green Political Thought Andrew Dobson

Posted on: March 19, 2011

Pada tahun 1855, kutipan dari Bangyard dan Morgan-Greenville pada tahun 1987, berbicara soal pengeksploitasi atau liberalisasi lingkungan. Sebenarnya maksud dari pidato yang seharusnya dikatakan oleh Chief Seattle pada tahun 1855. Memang tak dipungkiri bahwa kebutuhan manusia semakin bertambah dan tak terhingga, sehingga penggunaan sumber daya alam pun tak dipungkiri begitu dimaksimalkan. Dalam buku Andrew Dobson yang berjudul Green Political Thought tahun 2007, ada artikel yang ditulis oleh Benson tahun 2000 bahwa kehidupan politik, ekonomi dan sosial kita sangat mempengaruhi lingkungan hidup. Segala aktivitas yang kita jalani pun terkdang menjadi bagian dari pengeksploitasian alam, seperti transaksi jual-beli yang kita lakukan dalam mendapatkan barang hasil penggunaan sumber daya alam. Industri kapas yang tentunya menghasilkan kapas dalam jumlah besar untuk keperluan kosmetik misalnya. Atau aktifitas penebangan hutan yang legal maupun yang tidak illegal untuk bahan bangunan yang tentunya juga merupakan kebutuhan manusia. Dan memang akan memunculkan bagaimana hubungan manusia dan lingkungan yang sebenarnya. Lalu seberapa besar keterkaitan hubungan itu? Bagaimana pula respon dari manusia sendiri terhadap kerusakan lingkungan yang sekarang sudah menghawatirkan?

Filsafat lingkungan hidup tidak hanya menitik beratkan pada melindungi dan promoting nilai-nilai alam, tapi juga dengan cara memutuskan bagian penting mana yang akan dilindungi.[1] Banyak memang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan melalui alasan-alasan secara ekologi. Maka akan kita coba menganalisis soal Politik hijau. Pada dasarnya Politik hijau merupakan pemikiran yang berada pada posisi yang tidak berkembang dalam disiplin Hubungan Internasional. Pada dasarnya kaum enviromentalis menerima suatu kerangka atas struktur politik, sosial, ekonomi, dan normatif dari politik Internasional dan bertujuan memperbaiki masalah lingkungan hidup dalam struktur tersebut.[2] Sedangkan politik hijau sebenarnya lebih fokus pada struktur yang dijelaskan diatas sesungguhnya merupakan penyebab adanya krisis lingkungan hidup dan percaya bahwa maslah struktur ini harus dikaji lebih dalam. Sebenarnya dapat kita simpulkan bahwa politik hijau ini lebih memandang bagaimana segala aktivitas perpolitikan dunia memang sangat mempengaruhi lingkungan hidup kita, bagaimana sistem negara gagal untuk memperbaiki kerusakan lingkungan hidup yang terjadi. Politik hijau terlihat lebih mencoba untuk berpandangan secara logika bahwa sistem-negara maupun struktur lain dapat melakukan respon semacam itu. Kita tentunya mengenal istilah Antroposentris yang merupakan salah satu karakteristik dari Politik Hijau. yaitu pandangan bahwa manusia hanya bisa terus mengeksploitasi alam tanpa memikirkan bagaimana kelangsungan alam dalam membantu keberlangsungan hidup mereka. Karena mereka percaya bahwa apa yang selama ini disediakan oleh alam memang harus diperfunakan oleh manusia dalam pencapaian kebutuhannya. Maka tak heran banyak pandangan yang berpendapat bahwa akar dari permasalahan krisis lingkungan hidup ini karena Dan Tentunya ini akan menjadi bahasan yang sangat menarik karena pandangan Liberalis ala barat yang memang mengatasnamakan kesejahteraan manusia sebagai alasan utama eksploitasi alam besar-besaran tanpa ada usaha untuk mengembalikan ekosistem yang telah dirusaknya. Dan memang sangat sulit untuk menempatkan harapan kaum Antroposentris untuk mengembalikan lingkungan hidup pada kondisi semula. Mungkin contoh sederhana yang bisa kita lihat dari ulah kaum Antroposentris adalah bagaimana mereka memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan, dengan menebang hutan secara ilegal kemudian petani yang suka berpindah lahan sampai pabrik industri yang sembarangan membuang limbahnya. Pemikiran tradisional barat ini memang benar merupakan pemicu adanya isu krisis lingkungan hidup. Kesehjahteraan manusia seolah-olah diatas segala-galanya sampai-sampai mereka berpendapat bahwa hewan dan tumbuh-tumbuhan memang diciptakan untuk menunggu menunggu peran moral daru manusia untuk mengeksploitasi atau mempergunakan mereka. Dan seolah-olah pandangan ini percaya bahwa manusia lah yang merajai alam semsta ini dan tidak melihat setiap mahluk hidup punya hak untuk bertahan atau dilestarikan keberadaannya. Disebutkan juga dalam artikel yang dibuat oleh I Gede Suwantana dimana tertulis bahwa seperti yang dikemukakan oleh Tim Hayward bahwa dalam Antroposentris terjebak dalam pemikiran speacisme yang memang sudah melekat dalam pandangan tersebut. Yang mana Speaciesme sendiri yang dijelaskan dalam artikel itu adalah sebuah pemikiran dimana kita sebagai manusia dapat mengekploitasi segala sesuatu diluar manusia atau non-human world.

Diatas kita sudah membahas soal pandangan tradisional Barat yaitu Antroposentris yang mana menimbulkan perdebatan yang cukup hebat soal krisis lingkungan hidup. Tentu saja banyak pihak yang melihat pandangan Antroposentris ini memang akar dari segala permasalahan krisis lingkungan hidup. Dan salah satu penentang pandangan Antroposentris terutama pemikiran speciesme didalamnya adalah pandangan Ekosentris yang dianut oleh kaum Enviromentalis kontemporer yang percaya bahwa setiap mahluk hidup di dunia ini punya hak untuk berkembang dan hidup bebas, dan pelestarian akan hal tersebut bukan semata-mata untuk kepentingan bisnis manusia melainkankarena mereka mempunyai nilai intristik yang sama bahkan unik dengan mahluk lainnya.

Kemudian masih soal me-review buku Green Political Thought garapan Andrew Dobson, dimana tertulis bahwa ‘deep ecology’ yang tentunya masih erat kaitannya dengan penolakan atas Antroposentrisme. Tertulis dalam buku tersebut bahwa ’Deep Ecology’ merupakan suatu pandangan, konsep atau pengaruh yang dikemukakan Arne Naess pada September tahun 1972, dimana Naess memberikan perspektive soal pperbedaan antara apa yang dia sebut pergerakan ekologi yang ’shallow’ dan ’deep’. Dan ’shallow’ disini maksudnya adalah sebuah perhatian pada polusi dan penipisan sumber daya alam kemudian efek kerusakannya dapat dirasakan oleh manusia. Atau sebenarnya dalam arti kata lain dapat kita terjemahkan sebagai pergerakan ekologi yang lebih condong pada masalah dalam mengatasi gejala-gejala dari isu-isu yang berhubungan dengan lingkungan bukannya akar masalah dari sebab utama dampak serta faktor manusia dan sosial yang terlupakan untuk dimasukkan. Atau dapat pula dipahami sebagai salah satu pemusatan perhatian terhadap bagaimana mengatasi isu pencemaran dan eksploitasi lingkungan atau sumber daya alam. Dan salah satu pilar utama dari shallow ecological movement itu sendiri sebenarnya adalah adanya asumsi bahwa krisis lingkungan hidup merupakan persoalan teknis yang tidak membutuhkan perubahan dalam kesadaran manusia dan juga tatanan ekonomi.[3] Lalu kita kini beralih pada the deep concern yang mana dapat diartikan dalam prinsipnya sepeti tingkat kompleksitas, keanekaragaman, dan simbiosis. Dobson berpendapat bahwa berpendapat bahwa ‘deep ecology’ menginformasikan tipe-tipe radical green politics tertentu pada cara yang tidak terlihat jelas bagi mereka yang yang menciptakan politik identik dengan environmentalism. Maka dapat dimengerti apa bedanya pecinta lingkungan dengan environmentalist, diaman pecinta lingkungan itu masuk pada shallow ecological movements yang begerak dalam hal kepedulian terhadap lingkungan dan senantiasa menjaganya sedangkan penstudi lingkungan atau dikenal ‘deep ecologist’ akan berfikir bagaimana memajukan lingkungan dan senantiasa mencari alasan yang lebih dalam lagi dan tepat agar dapat membuat alam sebagai entitas berharga atas keprihatinan dalam dirinya sendiri. Dan itulah yang kemudian berlanjut soal animal rights movement dan teori dari etika domain dari manusia pada hewan sampai kemudian dianalisis oleh filsuf ekologi dan pemikir ‘deep ecology’ sebagai program yang tepat untuk mencapai tujuan dalam menghasilkan etika bagi alam non-sentient atau bukan living thing.

Dan masih menurut Dobson, bahwa dijelaskan dalam bukunya kalau ada masanya dimana ‘deep ecology’ dikaitkan dengan kepercayaan soal non-human world mempunyai nilai-nilai intristik. Hal ini muncul menjadi gerakan radikal dalam wacana etika tradisional dengan implikasi yang sangat jauh dari kata praktis bagi hubungan antara manusia dan lingkungan mereka. Dimana dapat dipahami sebagai fenomena atas hilangnya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga lingkungan mereka. Dan kesadaran itu tidaj akan tumbuh tanpa adanya langkah awal untuk mengawali itu semua.

Menurut saya buku karangan Andrew Dobson ini begitu lengkap dengan kutipan artikel yang sangat membantu kita dalam menganalisis fenomena sekaligus mendalami pemikiran para filsuf lingkungan hidup yang berkaitan dengan serangkaian isu-isu yang sekarang-sekarang ini.

 

Daftar Pustaka

 

 

 

 

Dobson, Andrew. 2007. Green Political thought (fourth edition). Routledge. New York. (Hlmn. 28-52)

Linklater, Andrew dan Burchill, Scott. (1996) Theories of International Relations. New York: ST Martin’s Press, inc.

Naess, Arne. Ecology, Community, and Lifestyle, Outline of Ecoshophy. Trans by David Rothernberg. Cambridge: Cambridge University Press.


[1] Andrew Dobson, Green Political thought, 4th edition (New York : Routledge, 2007) hlmn. 28-52

[2] Andrew Linklater dan Scott Burchill, Theories of International Relations (New York: ST Martin’s Press, inc., 1996)

[3] Arne Naess, Ecology, Community, and Lifestyle, Outline of Ecoshophy, trans by David Rothernberg (Cambridge: Cambridge University Press)

 

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: