Aurorastevani’s Blog

Analisis kebudayaan Malaysia dengan Indonesia

Posted on: March 19, 2011

Kita tahu bahwa Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang sesungguhnya satu rumpun yaitu rumpun melayu. Negara yang notabene bertetangga ini memang telah memiliki kedekatan atau kemiripan baik secara geografi maupun kebudayaan. Sejak dahulu, tepatna sejak pemerintahan Soekarno hubungan antar kedua negara ini memang sudah tidak harmonis. Inilah terkadang yang membuktikan persamaan tidak selalu membawa perdamaian. Apalagi ditambah banyak konflik yang terjadi sejak zaman orde lama di Indonesia dimana klaim-klaim yang ditujukan Malaysia terhadap Indonesia telah membuat tidak harmonisnya hubungan kedua negara ini menjadi-jadi. Berawal dari klaim yang ditujukan terhadap batas wilayah yang berupa klaim suatu pulau, sampai akhirnya saat ini yang terkenal yaitu Malaysia sering mengklaim kebudayaan Indonesia. Tentunya hal-hal tersebut yang menimbulkan berbagai macam opini rakyat Indonesia baik positif maupun negatif. Bahkan bentuk kekecewaan yang berupa jargon “Ganyang Malaysia” pun hingga kini masih hidup di kalangan rakyat Indonesia.

Pulau Sipadan-Ligitan tepatnya kini memang telah menjadi milik Malaysia, sayangnya, pulau yang terkenal akan keindahan pantainya ini, menjadi salah salah satu perdebatan cukup menarik dalam hal kepemilikan pada waktu itu. Konflik ini pun di bawa sampai ke meja mahkamah internasional, namun nasib sedang tak berpihak pada Indonesia, dan akhirnya Indonesia pun kalah. Sengketa berpindahnya kepemilikan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan ke tangan Malaysia berefek pada masalah berkelanjutan di antarkedua Negara yang menyangkut wilayah perairannya. Dan kini Malaysia mengklaim bahwa mereka berhak hingga 70 mil dari garis pantai Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang mana berbeda denagn Indonesia  yang menganggap kewenangan Malaysia hanya 12 mil. Seakan tak cukup hanya sampai disini, Malaysia pun mulai mencari buruan baru yaitu Blok Ambalat yang menjadi sasaran baru selanjutnya. Blok yang memiliki potensi kekayaan minyaknya ini parahnya menjadi sekian dari milikIndonesia yang diklaim oleh malaysia, padahal kita tahu bahwa  Blok Ambalat milik Indonesia menurut Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982 yang telah disepakati bersama. Dan parahnya lagi, Malaysia telah mengklaim perairan Laut Sulawesi di timur Pulau Kalimantan tak tanggung-tanggung sejak tahun 1979. Dimana saat itu, Malaysia membuat peta yang ternyata memasukkan wilayah perairan tersebut ke dalam kedaulatannya. Namun dengan sigap, peta itu pun segera diprotes Indonesia setelah kemudian coba dilayangkan beberapa kali sampai sengketa soal tapal batas darat di Pulau Kalimantan pun hingga saat ini terus menjadi perdebatan. Yang mana untuk kesekian kalinya Malaysia mencari masalah dengan menggeser tapal batas kedua negara hingga beberapa mil jauhnya. Sangat memalukan untuk apa yang dilakukan Malaysia yang tidak mencerminkan sebagai negara yang besar.

Saat masalah batas maupun sengketa wilayah belum usai, kembali Malaysia mengklaim sederet kebudayaan milik Indonesia. Mulai dari seni musik, Negara tetangga kita ini mengklaim lagu Rasa Sayange yang notabene milik masyarakat maluku serta alat musik Angklung yang merupakan kebanggaan masyarakat Jawa Barat lalu dari bidang seni tari, yaitu kesenian Reog Ponorogo dan yang terbaru yaitu Tari Pendet yang mana bahkan sudah dikenal masyarakat dunia merupakan kebudayaan dari Pulau Bali. Tak hanya itu, satu lagi yaitu bidang seni rupa, senjata keris khas Indonesia pun dipatenkan oleh Malaysia, selain itu wayang kulit dan wayang golek masih juga menjadi sasaran kepemilikan sepihak oleh Malaysia. Dan parahnya ada pula bidang fashion, Baju Kebaya dan Batik menjadi sasaran empuk Malaysia untuk diklaim menjadi miliknya.

Kalau kita mau menghitung satu persatu sebenarnya masih banyak lagi pematenan atau pengakuan sepihak yang dilakukan oleh Malaysia atas kebudayaan maupun wilayah yang merupakan milik Indonesia, namun tak mungkin saya sebutkan satu persatu karena begitu banyaknya. Sejatinya yang perlu kita lakukan adalah bagaiman sikap kita dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. Karena sesungguhnya kita tak bisa menyalahkan seratus persen pada Malaysia, karena bangsa kita baru aware akan kebudayaan mereka sendiri bsaat sudah sudah terjadi masalah pelik ini. Siapa yang mau bermusuhan dengan rumpun sendiri? Tentunya bangsa Indonesia tidak menginginkan hal itu, namun apalah daya saat sodara kita melakukan hal ini, maka usaha kita adalah mencoba mempertahankan itu dan mencoba untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. MArilah kita sebagai generasi muda mencoba untuk mempelajari kebudayaan yang menjadi cirri khas bangsa kita dan mendukung pendataan serta perlindungan bentuk kebudayaan yang difasilitasi pemerintah. Tak sepatutnya juga kita mengadili Malaysia tanpa bercermin pada apa yang menjadi salah kita.

Tadi sedikit soal pengklaiman beberapa bentuk kebudayaan maupun wilayah oleh Malaysia atas Indonesia. Sekarang kita coba akan menganaliss sedikit soal kebudayaan Abu-abu dan Malaysia. Kalau soal pengklaiman diatas itu jelas tak seharusnya dilakaukan Malaysia, namun kita juga harus mengetahui soal kebudayaan abu-abu. Akebudayaan abu-abu itu sendiri adalah kebudayaan yang tak jelas kepemilikannya Karena tak ada penemu pastinya. Dan bagaimana kita menyikapi soal kebudayaan abu-abu adalah bagaimana cara kita menganaliss itu, karena sejatinya kebudayaan abu-abu yang terjadi di Malaysia lantaran pada jaman orde baru dulu, banyak tenaga kerja guru yang dikirim ke Malaysia guna memperbaiki taraf pendidikan disana. Sampai akhirnya membuat banyak orang Indonesia yang memilih tinggal atau menikah disana, maka secara alamiah orang Indonesia akan berinteraksi dan mengajarkan kebudayaan atau kebiasaannya pada orang sekitar. Seperi beberapa masakan yang kita jumpai di Malaysia, tentunya itu tidak perlu kita protes saat itu masuk dalam iklan distasiun TV Malaysia karena sudah banyak orang Indonesia yang menetap disana. Inilah yang menjadi perdebatan saat kebudayaan abu-abu disalah artikan sebagai bentuk penyamaan yang dilakukan Negara Malaysia.

Mengingat Malaysia adalah negara dengan budaya luhur melayu, begitupun Indonesia, khususnya di Indonesia bagian barat. Karena budaya ini dimiliki oleh kedua negara yang berbeda, maka kebudayaan yang berada di wilayah ini disebut budaya daerah abu-abu ; gray area. Budaya yang berada di wilayah ini bisa dimiliki oleh kedua belah pihak, tapi tidak boleh diklaim secara sepihak. Yang kerap terjadi, khususnya akhir-akhir ini adalah seringanya terjadi klaim di satu pihak saja. Tidak hanya itu, seringkali juga Malaysia mengklaim budaya-budaya yang tidak berada di daerah abu-abu atau yang secara sangat jelas budaya yang sangat jelas merupakan milik Indonesia.[1]

Maka jelas bila konsentrasi kebudayaan daerah abu-abu adalah yang dapat diakui oleh Negara-negara bersangkutan namun tetap harus ada ijin, sejak Negara kita memang serumpun. Begitu juga dengan tarian dan beberapa jenis makanan melayu seperti Rendang, tentunya itu kebudayaan kita bersama. Dan memang biasanya kebudayaan didaerah abu-abu serig digunakan juga untuk iklan komersial, namun tetap harus saling memberi tahu Negara lain yang juga berada didaerah abu-abu yang sama. Bagaimana pun, daerah abu-abu juga mempunyai aturan yang telah disepakati bersama.

Kita tentunya harus maklum dengan apa yang terjadi soal kebudayaan abu-abu yang seharusnya bisa menjalin tali kekeluargaan sejak kita sebenarnya masih satu rumpun dengan mereka. Dan sekali lagi harus memahami apa yang kita punya terkadang akan kita temukan didaerah yang masih satu rumpun dengan kita. Dan usahakan kita mencoba menngerti akan itu semua dan bertindak sesuai apa yang memang perlu kita lakukan.

 

 

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: