Aurorastevani’s Blog

Kebijakan Ekonomi China cenderung Offensive

Posted on: April 5, 2010

Kita tahu bahwa China adalah negara yang sekarang justru menjadi sorotan khalayak dunia karena keberhasilan bangkit dari image negara Asia yang masih berkembang. Bisa kita lihat bagaimana perkembangan ekonomi China bisa sangat pesat dibandingkan negara Asia lainnya yang notabene masih menyandang gelar sebagai negara berkembang. Memang China bukan satu-satunya negara yang membuktikan bahwa dia salah satu Negara cukup maju dilingkungan Asia, seperti Korea Selatan contohnya yang memang sebelumnya sudah menjadi negara industri yang cukup maju. Setelah empat dekade Amerika memberikan bantuan yang  juga termasuk hutang pada Korea Selatan, namun sekarang sudah bisa dikatakan negara yang satu ini resmi bebas hutang luar negeri dan memperlebar sayapnya yang salah satunya dibidang industri sampai menjadi raksasa didunia bisnis elektronik ke-empat. Maka jelas bahwa China bukan satu-satunya negara di Asia yang sudah menyumbang kehebatanya dalam peluang bisnis dunia internasional. Hanya saja yang menarik disini adalah bagaimana China membangun pertumbuhan ekonominya dari dalam tanpa mau mendapat atau meminta campur tangan negara lain. Dan ini menjadi pilihan sulit bagi setiap negara seperti Indonesia yang tak bisa hidup tanpa hutang luar negeri, dan pada awalnya terlebih pada kebijakan ekonomi China yang jelas segalanya dari pemerintah atau negara dan harus kembali pada negara. Dan China percaya bahwa pendekatan sosialisme terbukti dapat mempraktikan ekonomi pasar, beda dengan Korea Selatan yang menggunakan sistem pasar bebasnya atau ekonomi kapitalisme. Strategi dan kebijakan ekonomi yang masih dipegang teguh dan merupakan taktik pertumbuhan ekonomi dengan mekanisme tetap membuka diri pada investor asing dan juga terbuka dalam kegiatan ekonomi dengan negara lain hanya saja peran pemerintah tetap yang sepenuhnya menjadi penggerak sekaligus pengontrol pertumbuhan ekonomi di China serta menjadi pengendali atas sektor moneter dan fiskal dengan sistem politik yang masih otoriter. Dan bukan ayal, bahwa kebijakan ekonomi China yang otoriter itulah yang membawa pertumbuhan pesat bagi sektor ekonomi yang kemudian menjadi salah satu raksasa Asia yang bersaing dengan Amerika.

Bicara soal mekanisme dari kebijakan ekonomi di China sangatlah mencengangkan jika sistem politik yang otoriter serta pendekatan sosialisme bisa membawa perubahan yang begitu mendasar bagi China. Dan satu hal yang perlu kita tiru dari China, dengan sistem politik yang otoriter maka segala urusan perekonomian dan perpolitikan diatur oleh pemerintah membuat sirkulasi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat menjadi stabil karena pemerintah memegang semua kendali dan berusaha memenuhi kebutuhan rakyatnya secara merata. Namun China tetap terbuka menerima investor-investor asing berdatangan yang menanam saham namun peran pemerintah sebagai penjamin keamanan sekaligus penjaga kestabilan politik tetap dipegang teguh, maka jelas juga pemimpin China pada waktu itu menanamkan konsep pintu terbuka terhadap ekonomi pasar namun tetap tak lepas dari embel-embel sosialisme. Bahkan sampai China menjadi saingan sekaligus negara yang harus diwaspadai oleh Amerika Serikat karena kesuksesannya dalam menembus pasar ekonomi global terutama dalam sektor industri. Itu semua diakibatkan kebijakan ekonomi China yang sosialis mampu membuat Amerika kewalahan karena pasar industri bajanya mengalami penurunan. Tak hanya itu, dalam sektor industri, terutama barang elektronik, China mampu membuat alat komunikasi semurah mungkin walau dengan kualitas diragukan, membuat dia menjadi negara yang mempunyai pasar distribusi yang besar di Asia. Dan dengan adanya campur tangan pemerintah yang sangat dominan itu membuat China mempunyai tabungan negara atau cadangan uang Negara mencapai $1 trilliun lebih. Karena tak adanya kebebasan individu untuk mengelola bisnis maka pemerintah bisa menabung uang negara sebegitu besar yang nantinya akan menjadi modal bagi perusahaan-perusahaan China untuk memproduksi maka jangan heran hampir semua barang elektronik yang ada di Indonesia buatan China sangatlah murah. Bahkan dengan semakin melesatnya China disektor industri, seperti industri elektronik misalnya membuat Amerika Serikat kelabakan menghadapi kebijakan ekonomi China yang terkadang sulit kita terima dengan akal sehat, kenapa pemerintah China mau memberikan pinjaman modal bagi perusahaan-perusahaan baik yang swasta maupun negeri, ini disebabkan karena segala pendapatan yang dihasilkan perusahaan baik swasta maupun negeri larinya akan tetap untuk negara yang dikelola oleh pemerintah. Ini lah yang menyambung dengan bahasan kita tadi soal sirkulasi ekonomi yang lancer di China, dengan adanya modal pemerintah maka perusahaan akan tidak segan-segan untuk meminta subsidi dari pemerintah, namun tetap mereka tidak bisa mendapat keuntungan telak, maka dari itu, negara tetap yang paling banyak mendapat keuntungan. Dan tak hanya dari mekanisme sistem ekonomi pasar sosialis-nya saja yang membuat China mampu menyaingi Amerika tanpa harus mengadopsi sistem politik barat, tapi juga adanya implementasi yang berkesinambungan dari setiap kebijakan yang dibuat pasca reformasi. Berbeda dengan Indonesia yang semakin banyak dibentuknya undang-undang dan juga amandemen namun itu hanya menjadi sebuah pemikiran yang secara abstrak tertulis karena kurang maksimal dalam implementasi dalam kehidupan masyarkat.

Kebijakan ekonomi China yang ekstrim rupanya justru mengubah laju perekonomiannya, bagi orang-orang China sendiri, mereka berfikir bahwa tak ada yang tidak bisa dibuat di China, dan ini merupakan janji sekaligus semangat yang kuat dalam setiap individu masyarakat China. Mulai dari peniruan produk Nokia yang diluncurkan dan mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat Indonesia sebagai konsumen sejati mereka. China sangatlah genius menempatkan sektor pasarnya didaerah seperti Indonesia yang angka ketergantungannya sangat tinggi sebagai salah satu negara konsumen terbesar. Dan untungnya China cepat merespon peluang yang ada didepan mata, tak ayal semangat masyarakat China yang tidak mudah menyerah, ulet, disiplin dan berpegang teguh pada komitmen. Itulah kenapa denga percaya dirinya China membuat cell phone yang meniru brand produk dari Eropa yang harganya jelas cukup terjangkau bagi kebanyakan orang Indonesia. Dengan seluruh daya guna dari setiap masyarakat serta keinginannya untuk mewujudkan harapan bahwa apa yang bisa dibuat di Eropa juga bisa dibuat di China dan serangkaian fakta dari strategi kebijakan ekonomi China yang sangat menjanjikan walau cukup ekstrim ini menunjukkan bahwa China sangat offensive dalam mengejar pasar disektor ekonomi. Bisa terlihat dengan jelas pula persaingan barang elektronik dari China maupun brand lain yang ditirunya mampu disejajarkan dengan produk aslinya walaupun dengan kualitas dan harga yang jauh dibawah justru menandakan bahwa ini tindakan yang offensive dimana China tidak hanya memilih bertahan di pasar ekonomi global tapi juga berusaha mendapat tempat teratas dengan cara bersaing dengan setiap kompetitor yang menghadang. Dengan berbekal semangat dan keuletan untuk bangkit sejal era reformasi akhirnya China bisa bangkit bahkan diprediksi akan bisa menyaingi Amerika Serikat pada 2020 atau bahkan kurang dari itu.

Jika bisa kita simpulkan bahwa dalam sektor ekonomi, China bisa dibilang menjadi negara yang offensive karena selalu ingin bersaing demi mencapai kesuksesan dalam pasar ekonomi global.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: