Aurorastevani’s Blog

Society and History

Posted on: April 3, 2010

Tidak mengherankan ternyata dalam alamat RGS Mckinder di tahun 1987 yaitu ‘Scope and Methods’, dia mengatakan sedikit tentang human security, dimana dia menyatakan bahwa analisis tentang manusia yang sebenarnya lebih condong pada peran pria dalam masyarakat akan lebih sempit cakupannya dari lingkungan. Bagaimanapun, dia menyarankan komunitas para pria harus dilihat sebagai kesatuan unit dalam perjuangan untuk keberadaan yang dianggap ad, yang mana itu semua, banyak dan sedikitnya sangat dibantu dan dipengaruhi oleh beberapa lingkungan sekitar. Ini merupakan teori murni dari Social Darwinism, karena tak hanya komunitas saja tapi juga lokasi yang dipertimbangkan sebagai kompetisi, dan juga untuk menjelaskan kenapa satu tempat atau lokasi harus merajai metropolis kecuali daerah pedesaan. Dalam argument dia selanjutnya, Mackinder percaya bahwa lingkungan dapat menciptakan kemungkinan atas perjanjian yang sekaligus solusi melalui rainfall dan vegetable dan kemudian ditujukan pada komunitas manusia, terhadap unit-unit berbeda oleh derajat atas pemisahan yang ditekan antara kawasan natural. Mackinder mengenal empat tipe dari komunitas manusia yang dikenal oleh skala tertentu sebagai races, nations, provinces, and towns. Lebih signifikan lagi, dia menambahkan bahwa dua tipe terakhir, biasanya digunakan dalam konteks dari kooperasi antar groups. Namun dia percaya bahwa dua tipe awal diatas sebenarnya lebih natural dimana mengena langsung pada variasi lingkungan.

Seperti kita tahu Mackinder pernah membuat suatu paper, yang berjudul Britain and the British Seas, a paradigm of the New Geography, dia membuat suatu perbedaan antara race dan nations yang tidak jelas. Mengambil setengah dari isi buku untuk mengaplikasikan the physical geography dari Britania Raya, Mackinder berubah haluan pada konsekuensi human geography. Dimana dia juga menjelaskan bahwa orang-orang Britania Raya seperti menciptakan geografi etnik atau kultural yang berbeda. Dan geografi etnik atau cultural ini, membuat kita mengingat kembali pada diskripsi Ratzel yang tentang global humanity yang menguak nigrescence didaerah tropis dan Mackinder menyatakan secara jelas dan terbuka pada para ekonom dan etnologis seperti karya William Ripley yang menyadur dari karya Ratzel tentang geografi etnik yang mana dalam konteks geografi moral di Eropa. Jelas terlihat itulah kenapa Ratzel melihat perbedaan warna kulit untuk mendiskripsikan negroid races of the world, sedangkan Mackinder dan Ripley mengikuti arahan antropolog John Beddoe dalam membaca dan melihat nigrescence dari corak warna rambut yang kemudian sama saat diimplikasikan secara hirarki oleh masyarakat modern sampai yang primitif.

Jika kita mau balik kebelakang soal empat tipe yang dikenalkan Mackinder soal human community, Mackinder menggunakan races dan nations dalam konteks biologi atas spesies subspesies. Bagimanapun juga konsepnya tentang races lebih condong pada teori Lamarck dari pada Darwin, karena baginya, races mempresentasikan ajaran tentang pengalaman lingkungan dimasa lalu. Tepatnya Mackinder percaya bahwa itulah bagaimana cara orang atau masyarakat meningkatkan mutu kehidupannya yang mana dengan pemikiran kuat menekankan pada aspek dasar atas kultural geografi. Dalam konteks berbeda, Mackinder pernah menegaskan bahwa perbedaan mendasar dari geografi politik bias dibilang ditemukan dalam fakta-fakta dimana masyarakat berpergian tau berkelana dan menetap. Masih mengungkit soal Biologi, Mackinder menghubungkan territorial dengan SDA, seperti bagaimana dia menghubungkan racialized-nations dengan spesies. Dimana setiap bangsa harus berdasar pada masa lalu dan juga masa kini untuk menciptakan territori serta harus disiapkan untuk mempertahankan teritori itu melawan invasi keserakahan dan kejahatan pihak lain.

Di Inggris kita mengenal adanya dilemma pada waktu itu yang kemudian menurut Mackinder, seperti dua sisi keping uang logam, yaitu metode pemerintahan yang autocratic yang kemudian dibawa atau diaplikasikan kembali di metropolis dan kolonialisme yang dibawa kembali pada masyarakat lokal yang kemudian merusak laju imperialisme. Dan bagi Mackinder tekanan demokrasi memberi politik domestic tersendiri bagi Inggris, yang mengarah atau menekankan pada kepentingan pribadi dengan mengenyampingkan tanggung jawab yang pada akhirnya memberikan pendidikan dalam konteks kebebasan untuk masyarajkat atau orang yang melihat kedepan pada misi kebijakan dan oeraturan imperialisme. Maka jelas bahwa perbedaan mendasar antara biologi dan geografi, antara metropole dan koloni meyakinkan bahwa pemerintahan kolonial akan berpegang teguh paad dirinya terpisah dari orang yang memrintah mereka. Dalam konteks Mackinder, menghindari autokrasi dan racial superiority yang juga menjauh serta menghindari miscegenation.

Kropo’ tkin’ tkin mempunyai presepsi yang berbeda soal bagaiman efek dari operasi lingkungan dimana beda dengan konsep holism. Konsep Holism bisa dikatakan merupakan pandangan berbeda dari perubahan lingkungan dan merupakan pula versi tipikal dari intensifikasi agrikultur. Terkadang banyak perbedaan yang jelas antara Mackinder dan dan Kropo’ tkin sebagai environment-talist, jika Mackinder mengembangkan penjelasan racist untuk evolusi masyarakat, Kropo’ tkin tidak. Karena Kropo’ tkin lebih menekankan pada perkembangan dari insting social dimana dia berargumen bahwa untuk umat manusia, hubungan atau korelasi dr sentral biologi adalah social dari pada genetic, atau analoginya lebih menekankan pada pilihan bukan takdir. Kropo’ tkin percaya bahwa manusia telah mengembangkan social rules mereka dengan cara mengobservasi bagaimana sekumpulan binatang bekerja, dan menaruh perhatian pada bagaimana binatang bias bekerjasama tanpa membunuh satu sama lain. Diman solidaritas internal lah yang menggerakkan perkembangan social, bukannya keangkuhan, yang nantinaya akan berujung pada mutual aid, tau bias juga dipahami sebagai fondasi nyata dari konseptual secara ethic kita. Pemikiran utama dari Kropo’ tkin adalah soal kolaborasi dari local system atas keadilan yang datang dari agrikultur yang inactive dan juga local instution. Dimana local institusi ini diberikan kekuatan oleh persaudaraan yang dikembangkan dalam persetujuan dan bersama-sama mereka membuka jalan hidup baru yang dikenal dengan Free Communes. Dimana menurut Kropo’ tkin, komunitas ini merupakan basis dari free citizens di akhir era abad pertengahan sebelum nantinya diancam dengan elaborasi dari Negara sentral di awal era modern. Kita tahu bahwa di awal era Negara-negara Eropa baru berdiri, mereka lebih mengambil system bebas, dimana Negara dengan bebasnya organized themselves. Dan pergerakan anarchi melihat dengan adanya campur tangan individu membuat kerusakan dari system suatu Negara. Dan Kropo’ tkin mengkritisi soal pandangan Thomas Huxley yang melihat sifat asli manusia yanag kejam dan selalu berusaha untuk berjuang dan bersaing. Yang kemudian dibalas oleh Kropo’ tkin dengan buku-nya The Mutual Aids, dimana inti dari buku tersebut adalah penekanan pada pembuatan lifelong campaign untuk membangun basis netralitas atas mutual care. Kropo’ tkin adalah orang yang menjunjung tinggi apresiasinya pada Hugh Robert Mill, terutama pada karya yang berjudul The Realm of Nature yang kemudian memberikannya ide pada buku What Geography Ought to Be.

Kropo’ tkin melihat struggle for survivors, dihasilkan oleh perkumpulan atau groups bukan individu. Dimana kondisi dan stabilitas dari sebuh group berdasar pada social solidarity dan bukannya pada eliminasi kaum lemah melalui kompetisi internal. Kooperasi memberi setiap individu, keamanan untuk membahayakan inovasi yang sangat mudah disalin oleh banyak orang. Masyarakat merupakan pencapaian yang kolektif dimana sangat tidak dimungkinkan dengan keadilan untuk menmprivatkan kontribusi dan justify rewards. Properti privat dan kapitalisme merusak prinsip evolusioner dan juga institusi-institusi Negara, mereka juga merupakan pembawa paham anti-prinsip revolusioner yang nantinya akan berdampak pada masyarakat menjadi mundur dan akhirnya hancur. Perjuangan manusia melawan pembatasan atas penggunaan lingkungan was crippled oleh pergerakan anti-social ini. Berdasarkan pemikiran Kropo’ tkin, prinsip sosial menyebar melalui para empati-empati sukarelawan dan federasi, serta putaran dukungan yang bersifat mutualisme, tumbuh dari kumpulan marga, suku, etnis, Negara sampai tingkat internasional. Pada saat yang bersamaan, prinsip anti-social dibuat oleh Negara, dimana dengan tujuan untuk melawan communalism asal dapat menciptakan suatu kemungkinan baru untuk monopoli yang dilakukan sevara privat. Dan bagi Kropo’ tkin, faktanya monopoli-monopoli baru telah dibuat setiap tahun sampai sekarang oleh parlemen disetiap Negara, dan bias dibilang Negara sebagai fondasi utama atas keuntungan para kapitaslis. Dalam demokrasi representasi, Kropo’ tkin berpendapat bahwa system demokrasi yang seperti itu hanya akan mempresentasikan sedikit dari kepentingan propertied class, dan civil liberties hanya akan dihargai jika masyarakat tidak menggunakan mereka untuk melawan kelas yang diuntungkan.

Seperti Mackinder, Kropo’ tkin melihat global struggle dating diantara kekuataan imperial, yang mana menurutnya konflik akan ada ketika finansial capital tidak lagi cukup untuk mengembalikan dari funding expansion. Perbedaan mendasar antara Mackinder dengan Kropo’ tkin adalah bagaimana mereka melibatkan interpretasi masing-masing atas sejarah dan komunitas. Mackinder melihat sejarah sebagai perjuangan diantara kompetisi atau racialized-nations. Embargo ini bertujuan untuk bersaing atau menghadapi kerusakan atau paling tidak ketidaksignifikan. Sedangkan Kropo’ tkin melihat sejarah sebagi perjuangan antara dua prinsip yaitu kekuatan social dan kekuatan anti-sisial kapitalisme serta Negara. Kropo’ tkin mendemostrasikan bagiamana alam bisa begitu dapat dimengerti sebagai kekuatan yang cooperative dan merupakan keuntungan evolusioner tunggal tapatnya pada mahluk yang lebih tinggi. Maka yang dalam pandangan ini, alam sangatlah tidaklah meyakinkan, baik dalam kompetisi maupun mutual aid.

Bisa kita lihat Mckinder yang condong pada Kapitalisme, property privat, dan otoritas sentral, yang mana menaruh perhatian pada alam untuk memberi alas an atau bertahan apada kompetisi dan pembatasan dalam fertilitas atas kondisi yang tidak memungkinkan atau buruk. Sedangkan Kropo’ tkin sebaliknya, yaitu memberikan kasus kuat untuk mengenal dan belajar basis netralitas untuk empatik dan konsekuensi atas kesadaran, solidaritas dan keadlian., tapi dia juga menekankan pada kualitas manusia yang fundamental hanya dsapat disadari dalam peraturan social. Pandangan Mackinder dalam kepentingan kompetisi tunggal dan perjuangan untuk bertahan hidup yang terus-menerus tak hanya pemikiran rasis dia tapi juga dalam penekanan-penekanan tertentu menuntun pada kompetisi agresif yang bersifat maskulin atau lebih condong terhadap peran pria. Terlihat jelas bahwa Mackinder menekankan atribut pda pria dan juga pengetahuan, dan bagi Mackinder, penggunaan kekuasaan dalam dunia yang banyak diperankan oleh atribut pria berhak mendapat dukungan dari rasionalitas dan agresi. Kesimpulannya dia percaya bahwa dunia sudah seharusnya dipimpin secara physically dan intelektual, dan bahwa explorasi memalsukan persatuan dari tujuan ganda ini, walaupun yang tidak stabil sekalipun.

1 Response to "Society and History"

Your blog is so informative … ..I just bookmarked you….keep up the good work!!!!

established franchises for sale

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: