Aurorastevani’s Blog

Makalah Politik dengan kekerasan

Posted on: January 6, 2010

            Cakupan dalam ilmu Politik dan dunia politik dikarakteristikkan menjadi sebuah pembelajaran yang tinggi oleh isu-isu vital yang menaruh perhatian pada pemerintahan dan organisasi internasional. Dimana keinginan untuk mengerti pertumbuhan dan perubahan dari suatu negara telah ditetapkan sejak 2500 tahun yang lalu atas pemikiran politik.[1] Dalam kurun waktu tertentu sistem politik bisa saja terabaikan atau mungkin terbuang sia-sia, hancur, dan bahkan mati begitu saja. Para pemimpin negara seharusnya secara terus-menerus membuat pilihan tentang bagaimana memelihara keinginan dan harapan dari rakyatnya. Terkadang permintaan rakyat tidak dapat dicapai yang berarti salah satu tugas bagi negara gagal, serta membawa dampak yang berakibat fatal seperti memunculkannya aksi pemboman, penculikkan, kerusuhan, dan berbagai gangguan lainnya. Dan sebuah kasus kekerasan politik tidak dapat disimpan atau menjadi bahan konsumsi dalam negeri saja, namun dewasa ini semua kasus itu telah terinternasionalkan oleh komunikasi global yang berkembang dengan cepat. Beberapa negara tercatat selalu mengalami konflik yang sifatnya terus-menerus dan kerusuhan ketika negara lain sedang damai. Namun satu hal yang pasti, tak ada satupun negara yang belum pernah mengalami kekerasan politik disepanjuang sejarah sampai saat ini. Konsep dari kekerasan dalam politik ini sendiri bersifat kontroversial, dan untuk beberapa alasan yang masuk akal, kita memasukkan kata ‘kekerasan’ yang dalam pembahasan ini berarti kekerasan fisik dalam arti sebenarnya, ditujukan untuk mencapai tujuan akhir politik. Tapi bagaimanapun, terkadang konsep ‘kekerasan’ juga bisa diartikan sebagai konsep ‘ancaman’ atas kekerasan itu yang dapat pula diterjemahkan sebagai gangguan dan manipulasi dimana tidak termasuk dalam kerusakan atau bahaya kekerasan fisik yang sesungguhnya. Pendekatan umum dalam ilmu politik adalah usaha untuk menjelaskan tingkatan-tingkatan atas kekerasan dengan menguji hypotheses, tentang hubungan statistikal antara atribut kekerasan dan dari segi ekonomi, sosial, serta kondisi politik yang menyertai.

            Banyak tipe-tipe dari kekerasan politik, yang mana salah satu caranya adalah mengkarakteristikkan itu dengan mengembangkan taxonomy untuk mengindikasikan karakteristik primernya.

A. Revolusi

            Dalam ilmu politik, revolusi dulu diyakini protret perubahan fundamental yang besar ditengah-tengah masyarakat berdasarkan penggunaan kekerasan. Terkadang, bagai-manapun revolusi digunakan kebanyakan untuk memasukkan lebih sedikit kegiatan-kegiatan politik seperti peruahan politik yang non-kekerasan, pempunuhan atas pemimpin atau pemberontakan. Beberapa pemberontakan mungkin salah satu bagian dari revolusi, tapi pemberontakan bisa juga tidak ditujukan untuk sebuah revolusi. Revolusi merupakan perubahan sistem yang mendasar, cepat dan dramatik sehingga sering dianggap momentum penting dalam sejarah dunia modern. Hal ini terutama telah membawa perubahan pada organisasi negara, struktur kelas sosial dan ideologi yang dominan, melahirkan negara-negara yang memiliki kekuasaan dan otonom dari pada sebelumnya, serta mempunyai dampak dan daya tarik internasional. Revolusi Perancis melahirkan suatu kekuatan penakluk benua Eropa, di mana ide liberty, egality, fraternity telah mendorong imajinasi untuk mencari kebebasan sosial dan nasional baik secara praksis maupun teoretis. Revolusi Rusia melahirkan negara adidaya dengan kekuatan industri dan militer, sedangkan Revolusi Cina telah mempersatukan kembali Cina yang terpecah-belah, di mana Partai Komunis dapat memimpin mayoritas petani di dalam perjuangan ekonomi dan militer. Dari skala besar tentang revolusi sosial diatas, maka ada tiga karakteristik yang bisa kita tampilkan disini, yaitu :

—    Kekerasan dulu digunakan untuk membawa perubahan dalam tanduk pemerintahan suatu negara

—    Target utama dari sebuah revolusi adalah membuat perubahan illegal dalam organisasi kepemerintahan, personal dan pelaksanaan kebijakan

—    Tujuan dari revolusi ini dulu adalah untuk membuat nilai-nilai dan perilaku yang ada pada sistem sosial menjadi permanen

Dari tiga definisi, dengan bijak membatasi ilmu yang mempelajari tentang revolusi. Dimana para politikus membatasi penggunakaan kata ‘revolusi’ pada situasi dimana terdapat tranformasi lembaga negara yang fundamentaldan juga struktur kelas dalam sebuah negara.[2] Dimana teori tadi merupakan pengertian revolusi berdasarkan pemikiran Theda Skocpol. Dimana Theda Scokpol mendefinisikan revolusi sebagai perubahan yang cepat dan mendasar dari masyarakat dan struktur kelas suatu negara, yang diikuti dan sebagian menyebabkan terjadinya pemberontakan kelas dari bawah. Revolusi ini disebabkan kombinasi dua kejadian yang berlangsung secara bersamaan, yaitu: perubahan struktur masyarakat dan pergolakan kelas, serta perubahan politik dan sosial. Kedua hal tersebut saling memperkuat satu sama lain, di mana perjuangan kelas memainkan peranan kunci. Perbedaan antara konsepsi revolusi sosial dari berbagai definisi revolusi lain antara lain: mengidentifikasi suatu objek penjelasan yang kompleks, yang contoh historisnya relatif sedikit; serta membuat perubahan sosial-politik yang berhasil (perubahan aktual dari struktur negara dan kelas) menjadi bagian spesifik dari revolusi sosial. Hal ini muncul dari berbagai konteks makro struktural dan konteks sejarah yang berbeda, dalam hal ini adanya perubahan hubungan kelas.

Sedangkan menurut Karl Marx revolusi bukan sebagai suatu episode tertutup dari kekerasan atau konflik, tetapi sebagai suatu gerakan kelas yang muncul dari hasil kontradiksi struktural di dalam masyarakat yang secara historis berkembang dan secara inten dilanda konflik. Kunci dari setiap masyarakat ialah mode of production (cara produksi) atau kombinasi khusus antara kekuatan sosial-ekonomi dalam produksi (teknologi dan pembagian kerja) serta hubungan kelas dalam pemilikan means of production (alat produksi) dan surplus of production (surplus produksi). Penyebab utama kontrakdiksi revolusioner dalam masyarakat adalah timbulnya pemisahan sementara (disjuncture) dalam means of production antara kekuatan sosial dengan hubungan sosial dalam produksi. Pemisahan ini menimbulkan konflik-konflik yang makin menghebat. Revolusi itu sendiri dilancarkan melalui aksi kelas yang dipimpin suatu kelas revolusioner yang mempunyai kesadaran diri. Dan Marx mempercayai bahwa revolusi muncul dari mode of production yang terbagi-bagi menurut kelas dan mengubah suatu mode of production ke mode of production lainnya melalui konflik kelas.

Bagaimanapun juga ada beberapa kejadian momentum yang tidak menggunakan kekerasan, dimana beberapa transformasi revolusi bertujuan untuk menampilkan secara langsung pada rakyat. Banyak beberapa alasan atau penyebab terjadinya revolusi, diantaranya seperti kesulitan dalam hal perekonomian negara, adanya perang external, dan adnya peningkatan penggunaan kekerasan dalam pengejaran atau pencapaian transformasi sosial yang diperbolehkan. Dimana disini kita melihat dari sisi konservatif dan progresif. Konservatif mempercayai bahwa revolusi dapat terjadi ketika adnya perubahan yang menguasai keadaan dengan cepat. Yang mana ini sangat kontras dengan progresif yang mengasumsikan bahwa revolusi terjadi ketika tidak adanya cukup perubahan yang mendasar. Teori Marx seperti yang telah dijelaskan, menyebutkan bahwa sangatlah salah bila mengatakan revolusi hanya akan terjadi pada masyarakat kapitalis saja. Namun ideologi komunis memberikan penjelasan atas revolusi yang terjadi di Rusia, China, dan Cuba. Berbeda dengan pendapat Marx, Lenin justru menyebutkan bahwa revolusi dari protelariat akan terjadi hanya bila negara dipimpin oleh partai revolusioner yang disiplin dimana didedikasikan pada kekerasan karena runtuhnya negara Rusia.

Presepsi klasik bahwa revolusi dapat disebabkan dengan cara meningkatkan standar ekonomi daripada sbuah kemunduran telah dijelaskan oleh Alexis de Toqueville. Dia mengungkapkan bahwha revolusi Perancis terjadi ketika kondisi ekonomi sedang meningkat di Perancis waktu itu, dan disitulah terdapat ketidakpuasan ditengah-tengah masyarakat dengan adanya peningkatan ekonomi dan kesejahteraan.[3]

B. Pemberontakan

            Pemberontakan acap kali berbentuk militer, walupun militer biasanya mempunyai koneksi dengan atau mendapat dukungan dari kunci pemimpin para penduduk. Kebanyakan pemberontakan tidak melibatkan terlalu banyak soal kekerasan, karena biasanya tank para prajurit berkumpul didepan istana presiden hanya untuk penerimaan dari presiden. Dan biasanya pemberontakan hanya sekelompok orang yang menuntut hak-haknya pada pemerintah. Karena mereka sudah tidak bisa menerima kebijakan dari pemerintah, menginginkan perubahan, tapi bukan perubahan yang mendasar seperti revolusi. Tau lebih jelasnya pemberontakan merupakan perubahan cepat dalam kepemimpinan dalam pemerintahan melalui aksi militer yang tidak sewajarnya. Mereka membuat suatu pasukan karena mereka mempunyai kekuatan yang terorganisir dan simbol status. Intervensi militer atau pemberontakan ini sering terjadi dimana pemerintah dan demokrasi tidak sesuai dengan legitimasi dalam derajat yang tinggi. Kebanyakan pemberontakan berdasarkan kepentingann pemimpin kelompok atau etnis.

C. Terorisme

Terorisme bukanlah suatu fenomena baru dalam peradaban manusia. Di tahun 6 Masehi, para Zealots (penganut fanatik) berupaya memaksa keluar tentara dan warga Romawi dari Palestina melalui suatu kampanye teror. Sejak itulah, terorisme telah menjadi suatu gambaran biasa dalam kehidupan politik. Peristiwa-peristiwa teror muncul ketika Revolusi di Perancis (misalnya yang dilakukan Robbespierre) dan Rusia (baik pada masa Kekaisaran maupun masa Uni Soviet), dan menjadi bagian tersendiri dari Perang Dunia I dan II terutama dihubungkan dengan penggunaan cara-cara terselubung yang dilakukan pihak-pihak yang berperang.

Kekerasan dalam Politik seperti teroris dapat ekspresikan atau dilakukan dalam berbagai bentuk, dan dewasa ini, kelompok yang terinspirasi oleh praktik kekerasan kita kenal dengan teroris. Contohnya seperti pada saat Perang Dingin pun acapkali dilakukan sebagai salah satu metode yang digunakan kedua belah pihak yang berseteru (blok Barat dan blok Timur), sehingga Morgenthau menyebutnya sebagai balance of terror di samping balance of power. Secara demikian, isu-isu terorisme sudah mengemuka sejak lama dalam Studi Hubungan Internasional, sebagai suatu bahan kajian dalam Politik Internasional maupun Keamanan Internasional. Terorisme modern berawal menjadi suatu masalah internasional di akhir dekade 1960an, terutama dikaitkan dengan Konflik Arab-Israel.

Dan terkadang dapat dikatakan pula bahwa terorisme itu merupakan suatu senjata dari si yang lemah (a weapon of the powerless). Hal ini terutama dilakukan beberapa pihak (baik individu, kelompok, maupun negara) yang merasa tertekan atau tertindas oleh pihak-pihak tertentu (baik individu, kelompok, maupun negara), yang melakukan tindakan kekerasan demi mencapai tujuan-tujuannya.

Terorisme telah terbagi kembali menjadi sekelompok orang yang menginginkan adanya suatu pengaruh kepada masyarakat baik didalam negeri maupun yang skala lingkupnya internasional. Teroris adalah penggunaan atau ancaman yang berupa kekerasan secara sismatis yang ditujukan pada individu atau negara untuk mendapatkan kebebasan atau dukungan. Ada beberapaa tokoh yang memandang terorisme dengan pandangan yang berbeda seperti Griffiths dan O’Callaghan mendefinisikannya sebagai penggunaan kekerasan yang tidak dapat diramalkan dan direncanakan atau ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan yang dapat diidentifikasikan. Hal ini dapat dilakukan oleh para individu dan kelompok melawan pemerintah, dan dapat digunakan dan disponsori oleh pemerintah melawan para kelompok tertentu.[4] Kemudian bagi Nester, terorisme adalah penggunaan atau penggunaan kekerasan yang diancam bagi tujuan politik untuk menciptakan suatu keadaan ketakutan yang akan memeras, memaksa, mengintimidasi, atau yang lainnya menyebabkan para individu atau kelompok mengubah perilaku mereka. Bahkan pada definisi ini dapat ditambahkan persyaratan bahwa terorisme adalah “kejam (ruthless) dan tidk berkompromi dengan norma-norma kemanusiaan, dan bahwa plubisitas merupakan factor yang esensi dalam strategi teroris.”[5] Dari berbagai definisi tersebut, setidak-tidaknya dapat diambil suatu benang merah bahwa terorisme selalu berkaitan dengan penggunaan kekerasaan (use of force) baik potential (bisa kemungkinan, kecenderungan serta maya) maupun fakual (nyata).

Salah satu masalah analistik yaitu bahwa group yang mendapat ketidakpuasan tidak akan pernah berbuat suatu kekerasan bahkan walaupun mereka mempunyai atau telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika ditanya kenapa mereka harus menggunakan kekerasan, maka jawabannya adalah bahwa sejatinya sekelompok orang yang mencari transformasi atas masyarakat secara ideologi pasti akan berbuat suatu kekerasan daripada mereka yang tidak. Adapun empat tipe dasar dari sekelompok orang yang merasa tidak puas itu yang dapat dianalisis :

 

—    Criminals  →  Mereka tidak mengatur sebuah misi atau project atas

transformasi masyarakat yang radikal

—    Nihilist  →  Mereka tidak menginginkan adanya kerusakan di masyarakat

 tapi tidak punya tujuan yang positif

—    Nationalists dengan  →  Mereka yang mencoba untuk memisahkan diri

tujuan khusus                   dari negara atau membuat negara baru

—    Nationalists dengan  →  Sekelompok orang yang ingin merebut seluruh 

Tujuan luas                       negara seperti yang ada pada konsep revolusi[6]

Dapat dilihat pada tipe yang ketiga dimana hanya menggambarkan individu-individu yang menginginkan untuk menyerang strukur politik yang dominan dari suatu negara tapi tidak mempunyai tujuan untuk menghancurkan negara seutuhnya. Secara tipikal, teroris menampilkan kembali masalah etno-etnik, nasionalis, dan kepentingan radikal. Kepercayaan dan keinginan mereka menyediakan suatu stimulus kekuatan untuk mobilisasi politik. Bagi mereka, keinginan akan negeri sendiri adalah alasan yang sangat kuat untuk politik yang radikal. Beberapa konklusi dapat dicapai dari sebuah konsep besar akan kekerasan politik, yang mana sejak semua sistem politik berdasar pada hirarki kekuatan mereka yang merupakan satu individu atau sekelompok orang merasa diduakan oleh status quo. Dan ketidakpuasan serta kerusuhan hanya terjadi ketika individual atau sekelompok orang ini terkena dampak oleh ideologi dan identifikasi. Lalu perlu diingat juga bahwa ideologi merupakan suatu set yang relatif terorganisir atas ide-ide dan juga nilai-nilai yang berarti untuk menjelaskan dan meng-evaluasi sebuah konklusi. Sedangkan identifikasi secara keseluruhan melibatkan bagaimana para individu mengerti dengan kondisi politik yang berdampak bagi individu lain. Tidak dipungkiri bahwa bahwa tujuan dari para teroris banyak yang diusahakan untuk dicapai dengan cara kekerasan selama ini. Maka itu semua tergantung pada respon dari pemerintah, karena hal ini dapat terjadi lagi dan mengakibatkan pertumpahan darah.

D. Perang

            Perang adalah sebuah masalah sentral atau dalam dunia politik internasional, sedikit dari apa yang dilakukan oleh pemerintah sering diartikan atau dijelaskan sebagai bentuk perang. Kebanyakan dari perang melibatkan konflik bersenjata yang cakupannya antar negara. Perang saudara misalnya sesuatu yang merupakan pengecualian karena itu terjadi dalam satu negara. Perang diketahui bahwa yang paling jelas dari ketidaksempurnaan politik internasional adalah ketidakmampuan untuk mengeleminasi konflik bersenjata antar negara. Lalu dalam Studi Hubungan Internasional, perang menurut Waltz dapat disebabkan oleh:

—    Sifat Manusia (Human Nature);

Disinilah dimana kita akan mendapat penjelasan kenapa sifat manusia memang menjadi pemicu adanya perang antar bangsa atau negara. Berikut menurut para filsuf politik melihat ‘human nature sebagai penyebab utama, diantaranya :

  • Tradisi Kristen: original sin;

Dimana dijelaskan pada cerita Adam dan Hawa yang berbuat dosa di surga.

  • St. Augustine: City of God;

Ditambah pemikiran dari theologian Kristen yang mempercayai bahwa perang adalah tanggungan atau beban manusia yang harus diterima.

  • Machiavelli: The Prince;

Penggambaran yang tentang interaksi antara sifat manusia dengan politik. Machiavelli melakukan observasi bahwa kesuksesan politik dan kebaikan seringnya sangat tidak berhubungan : Pemimpin diajak untuk meningkatkan kesejahteraan dalam proporsi secara langsung pada permintaan salah satu pihak dan mendukung aksi kejahatan agar urusan politik selesai.

  • Sigmund Freud: a “death wish”

Memepercayai bahwa manusia lahir karena adanya keinginan untuk mati nantinya  adanya tendensi merusakkan diri sendiri secara alami.

  • Thomas Hobbes: a state of natur
Thomas Hobbes mempercayai sebagai seorang realist yang menimbang untuk mengerti memang itulah sifat sebenarnya dari manusia, dan begitulah seharusnya. Untuk membedakan sifat asli manusia, Hobbes percaya dimana salah satunya adalah menganalisis tingkah laku manusia diluar dari pembatasan lingkungan oleh masyarakat dan juga pemerintah, dimana hanya ada dalam ‘state of nature’. Menurut Hobbes pula, manusia dalam ‘state of nature’ diperintah oleh insting perlindungan diri yang kuat. Dimana digambarkan bahwa manusia sangat takut mati, terlebih mati karena tindak kekerasan. Dan yang paling penting Hobbes yakin bahwa ruang lingkup internasional juga menumbuhkan atau memicu adanya perang. 

 

—    Masyarakat/Negara (Society/State);

Tidak semua para filsuf politik beranggapan bahwa penyebab perang yang utama hanyalah sifat asli dari manusia atau ‘human nature’. Beberapa dari mereka menyalahkan masyarakat atau publik disaat yang lain mendebatkan beberapa negara politik yang menyebabkan bahaya bagi perdamaian. Berikut pendapat beberapa ahli dalam memandang faktor masyarakat yang memicu adanya perang antar bangsa atau negara :

  • Jean-Jacques Rousseau

q       Property to blame

“Manusia memang dilahirkan bebas dan tak terikat dan dimanapun dia terkait”. Dimana dengan serangan dalam negara-bangsa yang modern, Rousseau memulai bagian pertama dari karyanya sosial contract (1762), dimana dia menantang pernyataan Hobbes bahwa manusia secara alami berhasrat dan pintar srta penuh kekejaman atau kekerasan. Rousseau memulai dari premis dimana manusia pada dasarnya adalah mahluk yang bodoh tapi damai, serta cukup berkemampuan untuk merasa kasihan pada yang sedang menderita. Rousseau percaya bahwa masyarakat lah penyebab daridari semua kemunduran manusia termasuk perang, tepatnya dia menyalahkan properti institusi privat yang menuntun pada masyarakat politik pertama kali dan merupakan akar dari iblis yang menggunakan pengaruh yang hebat dan intensif pada intelektual sejarah modern.

q       Nationalism to blame

Banyak filsuf modern yang mempercayai bahwa perang diwariskan oleh semua masyarakat disunia ini oleh aset atau keuntungan dari keberadaan mereka sebagai komunitas politik yang terpisah dan berdaulat. Dimana nasionalisme dapat dimanipulasi dalam sebuah dukungan kebijakan perang, dan konflik dalam sisi yang lain dapat digunakan untuk mengintensifkan nasionalisme. Saran yang paling penting dari analisis ini adalah untuk meningkatkan nasionalisme merupakan sebuah hasrat atau keinginan yang salah, dimana bahwa itu adalah kondisi umum atau publik daripada secara alami, masyrakat yang berpolitik lah yang patut disalahkan untuk soal perang.

  • Imanuel Kant

Kant menggambarkan proses evolusioner, jika tidak terlihat atau sulit dijabarkan, maka progres akan dibuat menjadi dunia yang penuh kedamaian sebagaimana seperti pemerintah dimanapun yang akhirnya respon menjadi meningkat pada mayoritas yang populer. Yang pada akhirnya dia merasa bahwa perang akan menjadi sesuatu yang tak lebih dari sekedar rasa penasaran yang bersejarah. Kant menghubungkan republikan dengan perdamaian yang mana menjadi ide atau prinsip politik Wilson. Mereka berdua, Kant dan Wilson, menaruh perhatian pada rekonstruksi dari negara-bangsa sebagai kunci menuju dunia atau kehidupan yang terbebas dari perang. Lebih spesifik lagi mereka berdua menyebutkan ekstensi global demokrasi, pendidikan, dan pasar bebas untuk mempromosikan perdamaian.

  • V.I. Lenin

Dari semua filsuf yang tridak setuju dengan perdamaian dunia yang fokus pada kreasi dari lebih banyaknya demokrasi dan eliminasi atas diktator merupakan kontempor dari pemikiran Wilson adalah Lenin, yang seorang pemimpin revolusi Rusia dan juga pemimpin pertama Uni Soviet. Lenin secara tegas mengasumsikan bahwa setiap negara telah diberikan pilihan untuk menganut antara kapitalisme dan komunisme. Bagi Lenin sebagai pengikut Marxisme, melihat perang secara eksklisif bertujuan untuk mencapai monopoli bagi kapitalis. Maka dapat kita simpulkan bahwa Lenin mempercayai bahwa perang adalah bisnis yang bagus untuk para kapitalis didunia ini, maka para kapitalis membuat bisnis tersebut untuk mempromosikan perang.

—    Sistem Internasional/Lingkungan (International System/Environment)

  • John Locke

Prespektif Locke dalam bukunya Two Treaties on Civil Government (1690), dimana dia mengatakan secara gamblang  bahwa perang merupakan refleksi dari kondisi alami daripada sebuah kesalahan atau ketidaksempurnaan dari sifat manusia atau masyarakat. Dengan jelas dan sederhana dijabarkan bahwa proporsi dari John Locke adlah kondisi lingkungan diluar kontrol manusia biasanya menempatkan manusia dalam knteks ‘lakukan atau mati’yang membuat konflik mudah untuk diprediksi. Pandangan Locke pada manusia, masyarakat dan alam mempunyai penekanan pada isu-isu perang da perdamaian. Menariknya transformasi alam yang dijelaskan Locke tentang bagaimana menghentikan konflik manusia dalam masyarakat domestik dimasa yang akan datang. Pemerintah seharusnya menciptakan suatu kondisi dimana dapat mendukung proses perkembangan ekonomi, tambah John Locke, karena melalui perkembangan ekonomi lah penyebab utama dari tekanan sosial. Dan hadiah atau nilai yang paling berharga dari sebuah perang adalah tentunya wilayah. Karena bagaimanapun kembali pada hasrat manusia untuk menguasai daerah atau sumber daya yang memang menjadi objek utama dalam perang.

  • Richard Falk

Richard mengidentifikasikan ‘empat dimensi dari bahaya planet’ termasuk ‘sistem perang’, tekanan populasi, kelangkaan sumber daya alam, dan ‘lingkungan yang overload.’[7] Dimana keempat dimensi adari bahaya planet ini meurut Falk merupakan aspek kesatuan dari masalh tunggal dan konsekuensinya harus dibuat dan dipelihara sebagai kelompok. Dimana asumsi Falk konsisten dengan pendapat Locke yang mana dia percaya bahwa ‘masyarakat internasional adalah tentunya sebuah contoh ekstrim dari sistem perang. Konflik muncul. Kepentingan vital secara konsisten sangat penuh resiko. Ketidaksamaan atas sumber daya alam dengan kekuasaan nmembuat insentif untuk mendapatkan proses negara bertetangga.’[8]


[1] James A. Bill and Robert L. Hardgrave, Comparative Politics: The Quest for theory (Colombus, Ohio: Merril, 1973), p.43.

[2] Theda Skocpol, States and Social Revolutions: A Comparative Analysis of France, Russia, and China (New York: Cambridge University Press, 1979).

[3] Alexis de Tocqueville, The Old Regime and the France Revolution (New York: Doubleday, 1955)

[4] Martin Griffiths, and Terry O’Callaghan, International Relations. The Key Concepts, (London and New York: Routledge, 2002) p. 307.

[5] William Nester, International Relations. Politics and Economics in the 21st Century, (Belmont, CA: Wadsworth, 2001) p. 312.

[6] Peter C. Sederberg, Terrorist Myths (Eaglewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall, 1989).

[7] Richard Falk, This Endangerred Planet: Prospect and Proposals for Human Survival (New York: Vintage Books, 1972), pp. 106-7.

[8] Ibid., p. 107

2 Responses to "Makalah Politik dengan kekerasan"

Hi… Sorry my comp can’t read those kind of words… Would you translate it into English??? So I could understand…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: